Radio Online LPMAK
Media Sosial Kami
Twitter LPMAK

LPMAK Fanpage

KCDG Berdayakan Masyarakat Lima Kampung

LPMAK Timika – Papua | 30 October 2018
Masyarakat Suku Kamoro ketiak mengikuti kegiatan upacara adat.


Kamoro Community Development Group (KCDG) atau Kelompok Pemberdayaan Ma-syarakat Kamoro mendorong pemberdayaan warga di lima kampung yang terkena dampak langsung limbah industri PT Freeport Indonesia di Timika.

Kelompok pemberdayaan masyarakat Kamoro yang diberi nama Taru Aria adalah gerakan masyarakat asli Suku Kamoro yang mendiami lima kampung, yakni Nayaro, Tipuka, Ayuka, Koperapoka, Nawaripi yang keanggotaannya juga berasal dari lima kampung tersebut.

Ketua Kamoro Community Development Group (KCDG) Taru Aria, Yohanis Mamiri di Timika mengatakan, tujuan utama kelompok tersebut, yaitu untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dengan berbagai kegiatan pengembangan masyarakat yang sumber dananya berasal dari masyarakat sendiri dan untuk masyarakat.

“Kami menyadari bahwa adanya keter-gan-tungan masya-rakat terhadap PT Freeport Indonesia melalui dana kemitraan, hanya menunggu Freeport bantu. Namun pertanyaannya apakah masyarakat kami sudah siap jika sewaktu-waktu Freeport pergi,” kata Yohanis.

Dr Leonardus Tumuka yang juga pendamping kelompok tersebut mengatakan hidup masyarakat Ka-moro termasuk di lima kampung harus berjalan terus meskipun Freeport dapat tutup sewaktu-waktu.

“Potensi yang ada pada masyarakat harus mulai digali sejak sekarang entah itu dari sektor pertanian, perikanan dan lain-lain,” ujar Leonardus.

Ia mengatakan bahwa program pemberdayaan yang sedang dilakukan kelompok tersebut mengagendakan tiga kegiatan antara lain pembentukan koperasi yang bergerak di sektor perikanan, renovasi rumah mandiri dan rencana pembangunan Goa Maria sebagai salah satu destinasi wisata rohani di kampung Nayaro.

Semua anggaran yang akan digunakan untuk tiga program tersebut berasal dari sumbangan masyarakat sendiri. Khususnya untuk renovasi rumah dan pembangunan Goa Maria akan dikerjakan oleh masyarakat tanpa diupah.

“Sebetulnya kami bukan tidak mau melibatkan pemangku kepentingan lain tetapi ini adalah proses penyadaran bahwa masyarakat bisa melakukan pengembangan tanpa mengharapkan bantuan dari pihak lain. Dengan demikian akan muncul rasa percaya diri, dan masyarakat bisa melakukan perubahan sendiri secara berkesinambungan,” ujarnya.

Selain itu masyarakat harus dilatih untuk bisa memutuskan mata rantai ketergantungan yang menurutnya telah akut terhadap Freeport.

Ia juga berharap agar program pemberdayaan menuju kemandirian khususnya di lima kampung tersebut menjadi proyek percontohan untuk yang kemudian diharapkan berdampak kepada kampung-kampung yang lain. (*)


SEJARAH KAMI

Pemerintah Provinsi Irian Jaya dan PT Freeport Indonesia (PTFI) pada bulan April 1996, memprakarsai suatu rencana pembangunan di kawasan operasi perusahan dengan sasaran utama pada sejumlah Kampung asli Amungme dan Kamoro di seputar kota Timika.

Rencana tersebut tidak berjalan mulus, hingga terbentuklah Program Pengembangan Masyarakat Timika Terpadu (PWT2) yang cakupannya lebih luas meliputi warga suku Amungme dan suku Kamoro serta kekerabatan lima suku yang berdomisili di Mimika.

Lembaga PWT2 telah mengelola Dana Kemitraan PTFI yang dialokasikan sebesar dari 1% penghasilan PTFI sebelum dipotong pajak dan kewajiban lainnya. Dua tahun kemudian pada bulan Agustus 1998, Masa transisi dan reposisi lembaga, di mana seluruh program yang dilakukan PWT2 dihentikan.

Baca selengkapnya ...

HUBUNGI KAMI :
Kantor Pusat (sekretariat) :
Jalan Yos Soedarso (Eks Incubator PTFI) Timika,
Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321521, 322450, 3217563.
Faks : 0901 – 321933, 323505.
Kantor Urusan Program :
Jalan Ahmad Yani, No. 68 A. Timika, Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321817, 322888.
Faks: 0901 – 323318.
Website : www.lpmak.org
Facebook : lpmak
Twitter : @lpmak_
Website: lpmak.org
Peta Lokasi