Home > Landas Article > Opini & Tips

Sore itu, saya disibukkan oleh PGU-JOGJA dengan acara kaderisasi para mantan seminaris, yang diselenggarakan di sekolah para calon sekretaris di ASMI Santa Maria, Bener-Yogyakarta. Sebagai seorang bendahara tentu saja saya harus mempersiapkan begitu banyak pengeluaran untuk berbagai kegiatan sehingga berjalan lancar, apalagi kegiatan ini mengundang banyak nama besar seperti Ibe Karyanto, Th. Wiryaman dari Ilead, Didik dari Kompas Gramedia dan sederet nama besar lainnya, tentu saja saya harus selalu hadir untuk make sure bahwa acara berjalan baik.
Namun pada sebuah sesi di sore hari, ditengah-tengah keseriusan sebuah diskusi materi, kami begitu terganggu oleh hingar bingar musik dan suara teriakan banyak orang. Mengganggu, rasa tidak nyaman pun muncul, lalu saya berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Saya mulai berjalan menuju ruang aula tempat suara-suara itu muncul, ternyata hingar bingar itu berasal dari suara mahasiswa peserta orientasi, semacam ospek di masa saya. Saya masuk dan melihat situasi sekeliling dan mulai bertanya kepada orang-orang yang bertegur sapa, sekadar berakrab-akraban seolah-olah sudah mengenal sebelumnya.
Namun ditengah-tengah pembicaraan itu, mata saya tertuju pada sosok wanita mungil, berambut pendek keriting penuh percaya diri berjalan mondar-mandir mengisyaratkan kesibukan, dan saya sangat yakin bahwa itu pastilah adik dari Papua. Saya mencoba mencari tahu dari orang-orang yang saya ajak bicara, ternyata dia adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ASMI Santa Maria. Woowww … serasa tidak bisa dipercaya, tetapi rasa itu harus terjawab, dan semakin menggebu-lah rasa keingintahuan saya pada sosok adik Papua. Sebuah rasa yang mengubah ketidak nyamanan menjadi keingintahuan naluriah.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*