News & Event > Detail
24/07/2009Kasus HIV Baru di Mimika Cenderung Turun

HINGGA Maret 2009, jumlah ku­mulasi kasus HIV/AIDS di Ka­bupaten Mimika tercatat seba­nyak 1.867 kasus. Jumlah ini termasuk temuan kasus HIV/AIDS baru yang terdata pada periode Januari hingga Maret 2009 sebanyak 84 kasus yang terdiri dari 41 kasus AIDS dan 43 kasus HIV.

Menurut data Komisi Penanggulangan­ AIDS Daerah (KPAD) Mimika,  puncak infeksi HIV/AIDS tertinggi di Kabupaten Mimika terjadi pada 2005. Mulai pe­riode 2008 kasus baru HIV di Mimika turun sebanyak 70 persen. Sementara pada tahun sebelum (2007) turun seba­nyak 72 persen. Sekitar 70 persen kasus HIV/AIDS di Mimika diderita oleh ma­syarakat lokal tujuh suku. Selebihnya, di­derita oleh penduduk pendatang. “Mu­lai terlihat kecenderungan turunnya kasus HIV baru di Mimika. Tetapi kasus AIDS nya meningkat,” kata Rey­nold­ Ubra dari KPAD Mimika.
Sebanyak 97 persen kasus HIV/AIDS di Timika tersebar melalui hubungan sek­sual dari kelompok heteroseksual, di­ikuti pola penularan dari ibu ke anak. “Ada satu kasus yang tertular melalui jarum suntik pada pengguna narkoba suntik,” ujar Reynold.

Ketika dilakukan konseling, menurut Reynold, penderita HIV yang tertu­lar melalui jarum suntik ini mengaku men­jadi pengguna narkoba suntik dan ma­sih aktif. “Apakah dia pakai di Timi­ka juga saya tidak tahu karena keti­ka teman-teman pemberi konseling me­ne­muinya, dia ngakunya pengguna nar­koba aktif di luar Kota Timika,” kata Rey­nold.

Untuk menekan percepatan penu­laran­ HIV/AIDS di Mimika, pemerintah daerah, melalui KPAD Mimika semakin menggiatkan kerjasama dengan berbagai lembaga mitra, termasuk Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). “Kerja sama de­ngan LPMAK memungkinkan kita dapat menjalankan program tentang HIV/AIDS secara menyeluruh dan merata sam­pai ke wilayah-wilayah terpencil,” papar Reynold.

Selain itu KPAD Mimika dan LPM­AK juga sudah tiga tahun berjalan meng­­giatkan program pencegahan HIV/­AIDS sampai ke tingkat distrik dan sejumlah wilayah terpencil. “Sejak 2008 pemerintah mulai membentuk KPA-KPA di tingkat distrik. Paling tidak KPA di tingkat distrik, khususnya di tujuh distrik bisa berjalan,” jelasnya.

Sejumlah distrik yang menjadi prio­ri­tas program penanganan kasus HIV/AIDS di Mimika adalah Distrik Temba­ga­pura, Kuala Kencana, Mimika Baru (Kwamki Lama), Mimika Timur Jauh, Mi­mika Tengah dan Mimika Barat. “Ka­mi mencoba di dua distrik Mimika Te­ngah dan Mimika Barat. Di daerah ini belum banyak kasusnya, ada tidak sampai 10 kasus. Kami mencoba memblok penyebaran penyakit ini dari awal,” kata Reynold.

Menurut data KPAD Mimika, kasus HIV/AIDS di Ayuka ditemukan tiga ka­sus. Terdiri dari dua kasus HIV dan satu kasus AIDS. “Di distrik ini kasus HIV/AIDS tertular lewat hubungan sek­sual,” kata Reynold.

Menurut Reynold, KPAD Mimika dan LPMAK serius menangani kasus HIV/AIDS di Mimika karena sebanyak­ 71 persen penderita HIV/AIDS di Mimika adalah masyarakat tujuh suku. “Me­lalui kerjasama antara LPMAK dan KPAD Mimika, kami sangat serius ber­upaya mengendalikan penyebaran HIV dan mengatasi permasalahan HIV yang ada di masyarakat,” kata Reynold.

Renungan AIDS Nusantara

Fokus pengendalian kasus HIV/AIDS di Mimika, kata Reynold, adalah me­ning­katkan peran aktif masyarakat. Ter­utama peran aktif pimpinan-pimpinan masyarakat  disektor adat, agama, mau­pun di sektor-sektor lainnya.
Termasuk dalam program sosialisasi ten­tang HIV/AIDS yang digelar dalam acara malam renungan HIV/AIDS Nu­santara. “Pendekatan yang kami la­ku­kan bagaimana masyarakat supaya bisa terlibat adalah melibatkan masyarakat secara penuh dalam kepanitiaan acara ini,” kata Reynold.

Acara yang diselenggarakan oleh KPAD Mimika dan LPMAK pada 23 Mei 2009 ini dilaksanakan serentak di Kaokanao, Atuka, Ayuka, Banti, Timika, dan Kwamki Lama. “Dalam kegiatan ini kami mengusung tema international yang dibuat oleh The Global Health Council, Together we are the solustion, atau bersama kita adalah solusi,” kata Reynold.

Renungan AIDS Nusantara di berba­gai­ wilayah ini diisi berbagai kegiatan kesenian, olah raga yang disisipi dengan­ pro­gram sosialisasi dan kampanye tentang bahasa penyakit mematikan ini.

Anggota KPA Distrik Mimika Barat, Alex Dumatubun dalam perbincangan­nya bersama LAndAS di Kaokanao me­ngatakan, untuk melakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit HIV/AIDS ke­pada masyarakat membutuhkan ke­sa­baran. Setidaknya perlu waktu, la­gi pula kebanyakan warga masyara­kat selalu menghabiskan waktunya ke pantai dan kepala air (dusun sagu). Alex terpaksa banyak bersa­bar hingga war­ga masyarakat utamanya tetua adat dan tokoh ma­sya­rakat itu kembali ke kam­pung barulah sosialisasi dilakukan. Me­­nurut pengakuan Alex, salahsatu­ media paling ekfektif yang mam­pu meng­gugah warga masyarakat adalah fo­to-foto penderita HIV/AIDS. “Kasih tunjuk gambar dan foto-foto dulu sebelum menjelaskan kepada mereka. Begitu lihat gambar, mereka jadi takut dan spontan akan muncul berbagai macam pertanyaan. Saat itulah kita dengan leluasa menjelaskan kepada mereka,” jelas Alex. (tjahjono ep/thobias maturbongs)