News & Event > Detail
HINGGA Maret 2009, jumlah kumulasi kasus HIV/AIDS di Kabupaten Mimika tercatat sebanyak 1.867 kasus. Jumlah ini termasuk temuan kasus HIV/AIDS baru yang terdata pada periode Januari hingga Maret 2009 sebanyak 84 kasus yang terdiri dari 41 kasus AIDS dan 43 kasus HIV.
Menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Mimika, puncak infeksi HIV/AIDS tertinggi di Kabupaten Mimika terjadi pada 2005. Mulai periode 2008 kasus baru HIV di Mimika turun sebanyak 70 persen. Sementara pada tahun sebelum (2007) turun sebanyak 72 persen. Sekitar 70 persen kasus HIV/AIDS di Mimika diderita oleh masyarakat lokal tujuh suku. Selebihnya, diderita oleh penduduk pendatang. “Mulai terlihat kecenderungan turunnya kasus HIV baru di Mimika. Tetapi kasus AIDS nya meningkat,” kata Reynold Ubra dari KPAD Mimika.
Sebanyak 97 persen kasus HIV/AIDS di Timika tersebar melalui hubungan seksual dari kelompok heteroseksual, diikuti pola penularan dari ibu ke anak. “Ada satu kasus yang tertular melalui jarum suntik pada pengguna narkoba suntik,” ujar Reynold.
Ketika dilakukan konseling, menurut Reynold, penderita HIV yang tertular melalui jarum suntik ini mengaku menjadi pengguna narkoba suntik dan masih aktif. “Apakah dia pakai di Timika juga saya tidak tahu karena ketika teman-teman pemberi konseling menemuinya, dia ngakunya pengguna narkoba aktif di luar Kota Timika,” kata Reynold.
Untuk menekan percepatan penularan HIV/AIDS di Mimika, pemerintah daerah, melalui KPAD Mimika semakin menggiatkan kerjasama dengan berbagai lembaga mitra, termasuk Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). “Kerja sama dengan LPMAK memungkinkan kita dapat menjalankan program tentang HIV/AIDS secara menyeluruh dan merata sampai ke wilayah-wilayah terpencil,” papar Reynold.
Selain itu KPAD Mimika dan LPMAK juga sudah tiga tahun berjalan menggiatkan program pencegahan HIV/AIDS sampai ke tingkat distrik dan sejumlah wilayah terpencil. “Sejak 2008 pemerintah mulai membentuk KPA-KPA di tingkat distrik. Paling tidak KPA di tingkat distrik, khususnya di tujuh distrik bisa berjalan,” jelasnya.
Sejumlah distrik yang menjadi prioritas program penanganan kasus HIV/AIDS di Mimika adalah Distrik Tembagapura, Kuala Kencana, Mimika Baru (Kwamki Lama), Mimika Timur Jauh, Mimika Tengah dan Mimika Barat. “Kami mencoba di dua distrik Mimika Tengah dan Mimika Barat. Di daerah ini belum banyak kasusnya, ada tidak sampai 10 kasus. Kami mencoba memblok penyebaran penyakit ini dari awal,” kata Reynold.
Menurut data KPAD Mimika, kasus HIV/AIDS di Ayuka ditemukan tiga kasus. Terdiri dari dua kasus HIV dan satu kasus AIDS. “Di distrik ini kasus HIV/AIDS tertular lewat hubungan seksual,” kata Reynold.
Menurut Reynold, KPAD Mimika dan LPMAK serius menangani kasus HIV/AIDS di Mimika karena sebanyak 71 persen penderita HIV/AIDS di Mimika adalah masyarakat tujuh suku. “Melalui kerjasama antara LPMAK dan KPAD Mimika, kami sangat serius berupaya mengendalikan penyebaran HIV dan mengatasi permasalahan HIV yang ada di masyarakat,” kata Reynold.
Renungan AIDS Nusantara
Fokus pengendalian kasus HIV/AIDS di Mimika, kata Reynold, adalah meningkatkan peran aktif masyarakat. Terutama peran aktif pimpinan-pimpinan masyarakat disektor adat, agama, maupun di sektor-sektor lainnya.
Termasuk dalam program sosialisasi tentang HIV/AIDS yang digelar dalam acara malam renungan HIV/AIDS Nusantara. “Pendekatan yang kami lakukan bagaimana masyarakat supaya bisa terlibat adalah melibatkan masyarakat secara penuh dalam kepanitiaan acara ini,” kata Reynold.
Acara yang diselenggarakan oleh KPAD Mimika dan LPMAK pada 23 Mei 2009 ini dilaksanakan serentak di Kaokanao, Atuka, Ayuka, Banti, Timika, dan Kwamki Lama. “Dalam kegiatan ini kami mengusung tema international yang dibuat oleh The Global Health Council, Together we are the solustion, atau bersama kita adalah solusi,” kata Reynold.
Renungan AIDS Nusantara di berbagai wilayah ini diisi berbagai kegiatan kesenian, olah raga yang disisipi dengan program sosialisasi dan kampanye tentang bahasa penyakit mematikan ini.
Anggota KPA Distrik Mimika Barat, Alex Dumatubun dalam perbincangannya bersama LAndAS di Kaokanao mengatakan, untuk melakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit HIV/AIDS kepada masyarakat membutuhkan kesabaran. Setidaknya perlu waktu, lagi pula kebanyakan warga masyarakat selalu menghabiskan waktunya ke pantai dan kepala air (dusun sagu). Alex terpaksa banyak bersabar hingga warga masyarakat utamanya tetua adat dan tokoh masyarakat itu kembali ke kampung barulah sosialisasi dilakukan. Menurut pengakuan Alex, salahsatu media paling ekfektif yang mampu menggugah warga masyarakat adalah foto-foto penderita HIV/AIDS. “Kasih tunjuk gambar dan foto-foto dulu sebelum menjelaskan kepada mereka. Begitu lihat gambar, mereka jadi takut dan spontan akan muncul berbagai macam pertanyaan. Saat itulah kita dengan leluasa menjelaskan kepada mereka,” jelas Alex. (tjahjono ep/thobias maturbongs)