News & Event > Detail
24/07/2009Pengetahuan Mama-Mama Mimika tentang HIV masih Rendah

SEKALIPUN Mimika menduduki tingkat kasus HIV/AIDS tertinggi di Papua tetapi pengetahuan mama-mama Mimika tentang penyakit HIV/AIDS masih rendah. Berdasarkan Ringkasan hasil Survey Pengumpulan Data Dasar di Empat Distrik Kabupaten Mimika tidak ada ma­ma-mama Mimika yang paham dengan benar tentang penularan HIV.

Survey yang dilaksanakan oleh Project Concern International (PCI) bekerjasama dengan Lembaga Pengembang­an Mansyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) dilakukan di kampung Ipiri, Paripi, Yaraya, Fanamo, Omawita, Aram­solki, Amungun, Beanegogom, Jokogoma, Doli, Omponi, Ombani 1, Ombani 2, Anggigi 1, dan Anggigi 2, pada 109 responden.

Berdasarkan hasil survey sebanyak 25,7 persen mama-ma­ma yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS, 10,1 persen mama-mama menyatakan tahu cara mencegah penularan HIV/AIDS, 5,5 persen tahu bahwa penderita HIV dapat terlihat seperti orang sehat, dan 14,7 persen mama-mama menyatakan tahu bahwa penderita yang terlihat sehat dapat menularkan virus HIV. Tidak ada (0 persen) mama-mama yang menyatakan paham benar tentang penularan HIV.
Pada survey yang sama juga diketahui bahwa pengetahuan mama-mama Mimika tentang penyakit menular seksual (PMS) juga masih rendah. Hanya sebesar 0,9 persen mama-mama yang menyatakan tahu gejala PMS pada perempuan. Pada tingkat prosentase yang sama, sebanyak 0,9 mama-mama menyatakan tahu gejala PMS pada laki-laki, dan sebanyak 1,83 persen mama-mama diketahui memiliki gejala PMS dalam waktu 12 bulan terakhir.

Rendahnya pengetahuan mama-mama Mimika tentang penularan penyajkit berbahaya ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Tetapi yang jelas, pengetahuan tentang penularan penyakit berbahaya ini sangat ditentukan oleh sosialisasi tentang bahaya penyakit ini kepada mereka oleh tenaga kesehatan atau kader-kader kesehatan.

Faktanya, di 15 pemukiman penduduk di wilayah pesisir dan pegunungan ini hanya di Aramsolki 1 dan Aram­solki 2 yang memiliki masing-masing satu tenaga kesehat­an. Sementara belasan wilayah pemukiman penduduk lainnya tidak ada tenaga kesehatan yang bertugas. Walaupun di 15 wilayah pemukiman ini sudah ada Puskesmas Pembantu (pustu).

Kehamilan dan HIV
Virus HIV yang diderita ibu hamil dapat menular pada bayi yang sedang dikandung. Tanpa upaya pencegahan, sekitar 30 persen bayi yang dikandung ibu terinfeksi HIV dapat tertular. Infeksi dapat terjadi kapan saja selama proses kehamilan, tetapi saat paling kritis biasanya terjadi sebelum atau selama persalinan. Makin lama proses persalinan, kemungkinan bayi tertular virus HIV makin besar.

Selain itu, bayi yang minum ASI dari ibu yang tertular virus HIV juga dapat tertular. Sebaiknya, ibu yang terinfeksi HIV tidak memberikan ASI-nya secara langsung kepada bayinya.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh ibu yang terinfeksi HIV untuk melindungi bayinya antara lain adalah mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV), menjaga proses kelahiran tetap singkat waktunya, dan hindari menyusui secara langsung. (*/tjahjono ep)