News & Event > Detail
YUSTINA, sebut saja begitu. Anak ini masih berumur sekitar dua tahun dengan berat badan tak lebih dari enam kilogram, berat badan yang tidak normal untuk anak seusianya. Rambutnya agak kemerahan dan mudah sekali rontok.
Tatapan matanya pun terlihat kosong. Dia hanya terlihat sesekali memandang tanpa ekspresi. Beberapa anggota TNI Yonif 754/ENK yang bertugas di Pos Distrik Jila, Kabupaten Mimika, menyebut Yustina mengalami kekurangan gizi.
Pelayanan kesehatan di Jila praktis lumpuh total. Bangunan Puskesmas hanya menjadi rumah hantu, sedangkan petugasnya lebih memilih tinggal di Kota Timika, Ibukota Kabupaten Mimika. Beruntung masih ada anggota TNI Yonif 754 yang bersedia memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Hal serupa juga menimpa Gabriel. Badannya juga kurus dan mudah terserang penyakit. Gerakannya pun tampak seadanya. Tatapan matanya agak sayu dan tanpa ekspresi.
Sepanjang hari Gabriel hanya bisa menangis dan menangis. Anak ini pun digolongkan sebagai penderita gizi buruk.
Ada banyak anak seperti Yustina dan Gabriel di Kabupaten Mimika. Distrik Jila hanyalah gambaran kecil tentang banyaknya anak yang menderita kekurangan gizi serta gizi buruk. Tetapi ironisnya, anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman Ibu Kota Kabupaten Mimika ini bukan berasal dari keluarga miskin secara ekonomi karena mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah. Seperti Yustina, orang tuanya bekerja sebagai petani yang saban hari berada di kebun.
Demikian juga Gabriel, bapaknya jebolan sebuah SLTP di Timika namun memilih pulang kampung untuk beternak babi. Menurut seorang petugas kesehatan TNI Yonif 754, di wilayah penugasannya terdapat puluhan anak di bawah lima tahun (balita) yang tergolong kurang gizi.
”Sebagian anak menderita gizi buruk memang karena faktor ketidakmampuan serta keterbatasan orang tua mereka secara ekonomi. Tapi ironisnya, ada sejumlah anak terpaksa harus mengalami kurang gizi akibat kesalahan pola asuh,” tuturnya.
Itu artinya, kekurangan bahan makanan bergizi bagi si anak lebih disebabkan oleh faktor ketidakpedulian orang tua terhadap perkembangan tubuh anaknya.
”Dalam beberapa kasus bahkan kami temukan si anak sudah dalam taraf sangat memprihatinkan sehingga perlu ditangani secara khusus,” tutur anggota TNI ini ketika bercerita bersama LAndAS di Distrik Jila saat Tim Program Ekonomi LPMAK melakukan kunjungan ke daerah itu. Dalam catatan Biro Kesehatan LPMAK berdasarkan hasil survey yang dilakukan Project Concern Intenational (PCI), sebanyak 66 persen lebih anak baduta di Mimika mengalami malnutrisi kronis karena kekurangan karbohidrat dan protein.
Kasus kurang gizi ini bukan hanya monopoli dari salah satu distrik yang ada di Kabupaten Mimika. Dari 12 distrik yang ada, kasus kekurangan gizi dan gizi buruk ini hampir selalu ditemukan. Hanya saja kuantitas maupun kualitas masing-masing daerah berbeda-beda. Ada daerah yang parah, ada yang tidak. Namun kebanyakan justru terjadi di daerah-daerah pedalaman dan sebagian daerah pesisir. Sebenarnya kasus kekurangan gizi tidak akan terjadi jika para orang tua memperhatikan pola asuh anak secara benar, misalnya dengan cara mengawasi pola makan anaknya.
Menurut anggota TNI Yonif 754, banyak warga masyarakat di Jila yang kesulitan mendapat perawatan. Tak saja anak-anak tapi orang dewasapun demikian. Jangankan Puskesmas, Posyandu saja tak berjalan samasekali. Tak tegah melihat kondisi demikian, anggota TNI yang bertugas di daerah itu terpaksa menjalankan tugas rangkap sebagai petugas kesehatan dadakan. Mereka memberikan penyuluhan tentang pentingnya pemenuhan gizi bagi balita kepada orang tua tapi juga memberikan pengarahan mengenai bagaimana menjaga kesehatan secara baik dan benar.
“Tapi ternyata upaya menurunkan jumlah penderita kekurangan gizi tak semudah membalikkan telapak tangan, sebab juga menyangkut perilaku para orang tua. Kendala bagi orang tua dari golongan tak mampu adalah soal biaya dan pendidikan yang sangat minim,” tutur anggota TNI. (thobias maturbongs)