News & Event > Detail
05/05/2009Anak Kekurangan Gizi
YUSTINA, sebut saja begitu. Anak ini masih berumur sekitar dua tahun dengan berat badan tak lebih dari enam kilogram, berat badan yang tidak normal untuk anak seusianya. Rambutnya agak kemerahan dan mudah sekali rontok.
Tatapan matanya pun terlihat kosong. Dia hanya terlihat sesekali meman­dang tanpa ekspresi. Beberapa anggota TNI Yonif 754/ENK yang bertugas di Pos Dis­trik Jila, Kabupaten Mimika, menye­but Yustina mengalami kekurangan gizi.

Pelayanan kesehatan di Jila praktis lumpuh total. Bangunan Puskesmas ha­nya menjadi rumah hantu, sedangkan petugasnya lebih memilih tinggal di Kota Timika, Ibukota Kabupaten Mi­mika. Beruntung masih ada anggota TNI Yonif 754 yang bersedia memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.  
Hal serupa juga menimpa Gabriel. Badannya juga kurus dan mudah ter­se­rang penyakit. Gerakannya pun tampak­ seadanya. Tatapan matanya agak sayu dan tanpa ekspresi.

Sepanjang hari Gabriel hanya bisa me­nangis dan menangis. Anak ini pun di­golongkan sebagai penderita gizi buruk.
Ada banyak anak seperti Yustina dan­ Gabriel di Kabupaten Mimika. Dis­trik Jila hanyalah gambaran kecil tentang banyaknya anak yang men­­derita kekurangan gizi serta gizi bu­ruk. Tetapi ironisnya, anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman Ibu Ko­ta Kabupaten Mimika ini bukan ber­asal dari keluarga miskin secara eko­nomi karena mereka memiliki sum­ber daya alam yang melimpah. Se­perti Yustina, orang tuanya bekerja se­bagai  petani yang saban hari ber­­ada di kebun.

Demikian juga Ga­briel, bapaknya jebolan sebuah SLTP di Ti­mi­ka namun memilih pulang kampung untuk beternak babi. Me­nurut seorang petugas kesehatan TNI Yonif 754, di wilayah penugasannya terdapat puluhan anak di bawah lima tahun (balita) yang tergolong kurang gizi.

”Sebagian anak menderita gizi buruk memang karena faktor ketidakmam­puan serta keterbatasan orang tua me­reka secara ekonomi. Tapi ironisnya, ada sejumlah anak terpaksa ha­rus meng­alami kurang gizi akibat kesalahan pola asuh,” tuturnya.

Itu artinya, kekurangan bahan ma­kanan bergizi bagi si anak lebih disebab­kan oleh faktor ketidakpedulian orang tua terhadap perkembangan tubuh anak­nya.
”Dalam beberapa kasus bahkan ka­mi temukan si anak sudah dalam taraf sangat memprihatinkan sehingga per­­lu ditangani secara khusus,” tu­tur­ anggota TNI ini ketika berce­ri­ta bersama LAndAS di Distrik Jila saat Tim Program Ekonomi LPMAK me­la­kukan kunjungan ke daerah itu. Da­lam catatan Biro Kesehatan LPMAK ber­dasarkan hasil survey yang dilakukan Project Concern Intenational (PCI), sebanyak 66 persen lebih anak ba­duta di Mimika mengalami malnutrisi kronis karena kekurangan karbohidrat  dan protein.

Kasus kurang gizi ini bukan hanya mo­nopoli dari salah satu distrik yang ada di Kabupaten Mimika. Dari 12 dis­trik yang ada, kasus kekurangan gizi dan gizi buruk ini hampir selalu dite­mu­­kan. Hanya saja kuantitas maupun kua­litas masing-masing daerah berbe­da-beda. Ada daerah yang parah, ada yang tidak. Namun kebanya­kan justru terjadi di daerah-daerah pedalaman dan sebagian daerah pesisir. Se­benarnya kasus kekurangan gizi tidak akan terjadi jika para orang tua memperhatikan po­la asuh anak secara benar, misalnya de­ngan cara mengawasi pola makan anak­nya.

Menurut anggota TNI Yonif 754, ba­nyak warga masyarakat di Jila yang ke­sulitan mendapat perawatan. Tak saja anak-anak tapi orang dewasapun demikian. Jangankan Puskesmas, Posyandu saja tak berjalan samasekali. Tak tegah melihat kondisi demikian, anggota TNI yang bertugas di daerah itu terpaksa menjalankan tugas rangkap sebagai petugas kesehatan dadakan. Mereka memberikan penyuluhan tentang pentingnya pemenuhan gizi bagi balita kepada orang tua tapi juga memberikan pengarahan mengenai bagaimana menjaga kesehatan secara baik dan benar.

“Tapi ternyata upaya menurunkan jumlah penderita kekurangan gizi tak semudah membalikkan telapak tangan, sebab juga menyangkut perilaku para orang tua. Kendala bagi orang tua dari golongan tak mampu adalah soal biaya dan pendidikan yang sangat minim,” tutur anggota TNI. (thobias maturbongs)