Home > Feature News > Membangun Satu Komitmen

TAK seperti perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) sebelumnya yang dilakukan secara meriah, HUT Lembaga Pengembangan Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang ke-18 ini diperingati secara sederhana berbentuk ibadah syukuran. Seluruh karyawan dan karyawati LPMAK berkumpul hanya mengucap syukur di Ruang Cenderawasih Hotel Serayu Timika, pada 16 April.

“Hari ini, kita hanya berkumpul untuk beribadah saja. Mengucap syukur kepada Tuhan,” kata Sekretaris Eksekutif LPMAK, Emanuel Kemong dalam sambutannya.

Selain internal LPMAK, turut hadir juga lembaga mitra, mulai dari perwakilan PT Freeport Indonesia, mitra pendidikan, mitra ekonomi, mitra kesehatan, serta mitra pendukung seperti perbankan. Tak ada kesan meriah, selain khotbah yang dibawahkan Pastor John Bunai, Pr. Wajib mengucap syukur dan berterima kasih atas penyertaan Tuhan selama 18 tahun LPMAK berkarya menciptakan masyarakat sejahtera.

Tema “LPMAK berkarya menuju masyarakat sejahtera” dipajangkan di depan ruang Cenderawasih Hotel Serayu Timika. Tak ada kegiatan lomba maupun pertandingan, atau penarikan undian seperti tahun-tahun sebelumnya. Syukuran dalam ibadah berbentuk Oikumene itu melibatkan 200-an karyawan-karyawati ditambah Badan Pengurus LPMAK dan Badan Musyawarah LPMAK, perwakilan PT Freeport serta perwakilan lembaga adat Amungme (LEMASA) dan Kamoro (LEMASKO) serta gereja dan pemerintah. Representatif para pemangku kepentingan, menyadari dalam berbagai tantangan dan persoalan, LPMAK bekerja membantu masyarakat.

“LPMAK sebagai lembaga representatif, dibentuk dalam kondisi berbagai masalah dan persoalan. Karena ada persoalan maka LPMAK terbentuk. Mari kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Selama 18 tahun Tuhan menyertai dalam karya dan persoalan-persoalan yang terjadi di  LPMAK,” ujar Kemong.

Memang, perayaan syukuran ke-18 ini terkesan sederhana. Hanya ibadah dan makan minum seperti biasanya, tak mengurangi rasa hikmat. Menurut Emanuel Kemong, Sekretaris Eksekutif LPMAK, kesederhaan itu terlihat dalam efektif dan efisiensi situasi. ”Pertama, kita sedang mengelolah dana masyarakat. Sangat aneh sekali, kalau kita menggunakan dana masyarakat sebanyak-banyak itu untuk kepentingan-kepentingan acara semacam ini,” ujarnya. Sehingga dana sebanyak-banyaknya dipergunakan untuk masyarakat dalam merealisasi berbagai program di lapangan. LPMAK sebagai penyalur dana sosial PT Freeport, Emanuel juga mengucap rasa keprihatinannya terhadap situasi manajemen di PT Freeport. “Kalau kita gunakan untuk acara lebih besar, maka ini sangat aneh. Maka acara ulang tahun yang sederhana saja,” tegasnya berulang.

Ungkapan itu, tentunya tak lepas dari faktor eksternal situasi Kota Timika. Diantaranya, pesta demokrasi, pemilihan kepala daerah, pemilihan umum legislatif, dan persiapan menyambut pemilihan presiden Republik Indonesia. Selain itu, perayaan ulang tahun pada tanggal 16 April, juga merupakan kelanjutan dari rekoleksi iman sehari bagi karyawan dan karyawati yang diselenggarakan di Gedung Tongkonan, Jalan Samratulangi Timika Papua. Rangkaian kegiatan itu memuncak pada perayaan paskah dalam keluarga, menyambut kematian dan kebangkitan Kristus  bagi umat Kristen pada akhir pekan itu.

Dengan ibadah demikian, berragam program LPMAK terlaksana pada tingkat capaian tertentu. Ibadah dan doa internal LPMAK mesti dirayakan bersama para mitranya. Dari berragam kepenting-an dan persoalan yang memuncak pada 18 tahun silam, maka solusinya terbentuklah LPMAK melalui program pengembangan wilayah Timika Terpadu (PWT2).

Proses perjalanan ini cukup panjang, dengan keunikan persoalan dan beragam tantangan, ke depan pun demikian. Banyak yang puas dan banyak yang belum puas, singkat kesannya, penuh tantangan. Dari berragam kisah suka dan duka, seperti perjalanan sejarah sebuah organisasi atau lembaga. Tentunya tak terlepas dari kisah dan kesan jatuh bangun selama proses itu. Uniknya, satu masalah selesai, kemudian berhadapan dengan masalah baru pada langkah berikutnya.

Demikian kesan Sekretaris Eksekutif LPMAK dalam sambutan yang dibawahkan usai ibadah syukuran Oikumene itu. ”Selama kisah yang panjang, saya merasa luar biasa. LPMAK tidak pernah mau mundur dengan persoalan dan tantangan yang ada.  Malah satu demi satu selesai dan diselesaikan dengan baik walau masih terdapat catatan,” ujarnya.

Selain Pater John, sejumlah tokoh agama, pastor maupun pendeta, sering memberikan rekoleksi langsung kepada karyawan-karyawati LPMAK maupun melalui titipan doa. Dalam syukuran kali ini, Pastor John Bunai Pr, memperingatkan lagi. “Jatuh bangun lembaga dengan berragam program dan kegiatan, intinya harus bangun lagi untuk mencapai tujuan. Kalau ada masalah, online siang dan malam kepada Tuhan,” pesan Pastor John Bunai, Pr.

Pesan dan siraman rohani itu seolah menguatkan komitmen dan semangat, agar LPMAK dan perangkat personilnya bersama para mitra terus berkarya menciptakan masyarakat sejahtera. LPMAK bukanlah  pemerintah, tapi sebuah lembaga swasta yang terbatas.

 

Semua yang berperan di dalamnya, entah pihak para pemangku kepentingan maupun para mitra dengan kepentingan masing-masing, bertujuan menciptakan masyarakat menjadi sejahtera.  Tujuan itu akan tercapai bila gabungan antara Pemerintah, lembaga swasta, masyarakat, gereja, kerukunan dan kelompok memiliki komitmen bersama menuju satu tujuan. Mensejahterakan masyarakat lokal di Kabupa-ten Mimika dan Papua umumnya. (willem bobi)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*