Home > Landas > Masalah Pendidikan

Bercerita tentang pendidikan di Mimika, Fairyo sangat menyesalkan sikap dan pandangan masyarakat pada umumnya terutama generasi muda tentang pendidikan. Masih banyak diantara mereka yang memandang bahwa pendidikan adalah sesuatu yang percuma, apalagi menjadikan pendidikan sebagai sebuah prioritas demi keberlangsungan hidup mereka dikemudian hari.
Mereka belum menyadari bahwa untuk menjamin keberlangsungan hidup sebuah generasi diperlukan kerangka berpikir positif konstruktif, dan pendidikan adalah elemen utama sebuah proses pembangunan kerangka berpikir tersebut. Jika hal itu diabaikan terutama oleh generasi muda, maka keberlangsungan hidup sebuah generasi akan terancam.
Fairyo melihat banyak sekali generasi muda yang hidup tergantung dari belas kasihan orang lain, mereka terus tinggal dalam sikap mental yang sama, sebuah ketergantungan yang kurang bisa diterima oleh Fairyo. Fairyo menyadari buruknya pendidikan di Mimika karena berbagai kondisi dan kendala bagi proses pendidikan di Mimika. Namun kompleksitas permasalahan pendidikan bagi Fairyo bukanlah alasan untuk menyerah dan membiarkan diri nya tanpa pendidikan. Justru dengan keterbatasan yang dimiliki kita bisa membangun mentalitas kita dengan membangun diri kita sendiri lebih dibandingkan dengan generasi lain, ini adalah sebuah kesempatan.
Itu sebabnya Fairyo tidak pernah membuang percuma setiap kesempatan yang datang kepadanya terutama kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, kesempatan untuk belajar, membuka cakrawala pandang karena wawasan itu dibutuhkan untuk keberlangsungan hidupnya dan orang lain. Sikap mental dan learning habitus seperti inilah yang harus dimiliki oleh generasi muda Mimika dan Papua pada umumnya. Jika tidak, maka kita akan tetap tertinggal dan tidak akan pernah mengejar ketertinggalan kita.
Fairyo yakin bahwa Tuhan sudah menciptakan setiap manusia dengan talenta masing-masing dan pastinya Tuhan mau kita dapat menjalankan talenta itu untuk kemuliaannya dan akan menambahkan dengan talenta lain atas kemajuan yang kita dapat dengan mengembangkan talenta yang kita miliki.
Demikian juga keyakinannya pada generasi muda Papua, banyak sekali generasi muda Papua yang mempunyai talenta, tetapi memendam talenta yang dimiliki karena ketidakmampuannya. Ketidak mampuan bukan karena pemberian Tuhan, tetapi karena sikap mental yang dibangunnya.
Fairyo begitu mensyukuri kesempatan mengenyam pendidikan yang dimiliki tetapi juga prihatin, masih banyak generasi muda Papua terutama mereka yang mempunyai talenta dan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, menyia-nyiakan kesempatan itu. Sungguh sesuatu yang sulit diterima oleh Fairyo, sebuah pemaknaan yang sangat keliru.
Memanggap pendidikan di Mimika dibandingkan dengan daerah lain cukup jauh, tetapi salah besar bahwa gap itu adalah alasan untuk bersikap inferior dan lari dari kenyataan bahwa kita memang tertinggal. Justru sikap mental yang harus kita bangun bahwa kita adalah orang-orang yang mempunyai superioritas karena mampu mengejar ketertinggalan kita.
Jika melarikan diri dari kenyataan, kemudian mabuk-mabukan hanya untuk meyakinkan diri kita bahwa kita sudah melakukan semuanya maka kita sudah mencari solusi dan pemecahan masalah yang semu. Kita harus berani mengatakan tidak dan menjauh dari sikap mental demikian, dan kembali kepada sikap mental positif bahwa dengan pendidikan maka kita akan dihargai oleh orang lain, karena kalau kita berpendidikan maka akan tercermin dari gaya berpikir kita, gaya berbicara dengan orang lain, tingkah laku kita, bahkan kita bisa menjadi pemimpin bagi orang lain, karena memang kita mampu untuk memimpin orang, hal ini tercermin dari Attittude yang kita tunjukkan ujar Fairyo. Seorang Cisilia Fairyo sudah membuktikan hal itu, dengan terpilihnya Fairyo sebagai ketua BEM dan menunjukkan kemampuannya dalam memimpin organisasi di luar Papua sudah menunjukkan kapabilitasnya sebagai seorang Papua yang mampu.
“Banyak hal yang akan kita buat apa-bila kita berhasil dalam pendidikan, pesan untuk teman-teman, saudara saudara kakak adik orang Papua….. kita pasti bisa dan mampu, sekarang tinggal keputusan dari pribadi kita sendiri, apakah kita mau atau tidak untuk merubah yang tidak baik menjadi baik… tidak pernah ada kata ter-lambat untuk sebuah pendidikan,” demikian Fairyo berpesan kepada generasi muda Mimika dan Papua umumnya.
Ucapan terima kasih secara pribadi untuk Direktur RSMM Dr Paulus S Sugiar-to Sp,B M,Kes juga Kakak Elizabeth Man-dosir S,Kep (Kepala Latbang RSMM) serta suami tersayang Bpk. Antonius P.Widiatmo yang selalu menjadi motivasi baginya bahwa sebuah pendidikan itu penting dan benar-benar harus saya ambil dan jangan pernah disia-siakan.
Juga kepada LPMAK yang tidak pernah berhenti dan lelah memperjuangkan pendidikan yang lebih baik untuk Mimika dan membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan kepada semua pihak. Demikian juga kepada siapapun yang berani memberi hati kepada pendidikan di Mimika, Dinas Pendidikan dan Pengajaran, PT Freeport Indonesia, para guru dan para pejuang individu bagi pendidikan.
Terima kasih kepada Cisilia Fairyo yang mau berbagi. Mungkin kita akan mempunyai pandangan dan pengalaman lain tentang pendidikan, dan itu akan memperkaya kita semua. Tetapi sharing Fairyo tentang pentingnya pendidikan mengingatkan saya pada sebuah ulasan dari seorang kontributor dari National Geographic tentang sebuah suku di Papua di National Geography Channel.
Sharing Cisilia sudah memberikan gam-baran kepada generasi muda lain untuk menemukan arti kepercayaan diri, yang dibangun tidak hanya melalui perjuangan panjang tetapi juga oleh sikap mental. Pendidikan adalah pintu bagi keberlangsungan hidup sebuah generasi. Kesadaran harus segera dimulai dari setiap individu generasi muda papua, demikian Cisilia Fairyo berpesan. Salam. (Yustinus Sunyoto) Cisilia Fairyo Cisilia FairyoISTIMEWA

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*