Diantara barisan gunung-gunung batu dengan lereng-lereng yang terjal dan lembah-lembah kecil disekitarnya adalah wilayah pemukiman penduduk pedalaman pegunungan tengah.
Jumlah penduduk diwilayah ini tergolong sangat padat, dibandingkan jumlah penduduk wilayah lainnya di Papua. Terdapat kelompok masyarakat yang menamakan dirinya orang Nduga, mereka bermukim secara terpisah-pisah di balik selatan lereng pegunungan Jayawijaya.
Nduga berasal dari kata Ndawa berarti orang yang hidup dari hasil buruan diantara lubang-lubang batu dibalik selatan pegunungan Jayawijaya. Mereka sendiri tidak suka dengan istilah itu karena dianggap suatu penghinaan.
Mereka menyebut dirinya sesuai nama lokasi dimana mereka bermukim akan tetapi nama itu kemudian terjadi perubahan intonasi sehingga menjadi Nduga. Bahasa mereka tergolong dalam bahasa non-Austronesia, ada empat dialek tersebar pada beberapa wilayah yaitu Hiburzt, Tundu,Tumbut dan Suburu. Bahasa pengantar diwilayah ini umumnya menggunakan bahasa lokal.
Mapendum, jigi merupakan wilayah bermukim suku Nduga, pada umumya penduduk ini seperti suku-suku terasing lainnya di Papua belum mengenal pemerintahan, lambang negara, bendera dan lain-lainnya. Mereka pun belum mengenal nama-nama pejabat negara termasuk pemerintahan Negara Republik Indonesia sendiri.
Para misionais lebih dikenal karena melakukan misi penginjilan kepada warga pedalaman sejak pra-kemerdekaan Indonesia Tak aneh bila mereka lebih mengenal Pendeta Andrean van Dor Nijl, misionaris yang sudah 54 tahun bertugas di sana disbanding pejabat pemerintah.
Begitu akrabnya pendeta itu dengan suku Nduga, maka warga kerap menganggap ia adalah camat, Makanan utama adalah hipere (sejenis ubi-ubian yang dibakar), nasi merupakan makanan langka, tanaman padi belum dikenal. Pertanian mereka masih mengandalkan hujan dan kadang-kadang mereka makan nasi yang diterima dari para misionaris.*